kepemimpinan dan Inovasi Lembaga Pendidikan (Pondok Gontor VII Putra Sulawesi Tenggara)
September 28, 2020
Nama : Dina yusyanti
Nim : 19010103006
Kelas : MPI A semester 3
Kepemimpinan dan Inovasi Lembaga Pendidikan (Pondok Gontor VII Putra Sulawesi Tenggara)
kehidupan manusia selalu mengarah pada fase yang semakin
meningkat dari waktu ke waktu, dalam konteks individual maupun sosial.Hal ini berlaku juga pada lembaga
pendidikan Islam, dimana persaingan bukan pada dengan sekolah-sekolah
umum, tetapi juga dengan sesama lembaga pendidikan Islam. Sehingga
masing-masing lembaga pendidikan dituntut untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam rangka memuaskan pelanggan mereka, atau bahkan
melampaui harapan mereka. Dalam konteks inilah inovasi dilakukan oleh
sebuah lembaga pendidikan
Pondok Gontor VII kendari (yang merupakan cabang dari Pondok
Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur) merupakan salah satu Pondok
Pesantren yang mampu melakukan akselerasi di tengah pesimisme atas
lembaga pendidikan Islam, baik itu pesantren, madrasah maupun sekolah
Islam. Pondok Gontor VII mampu menjadi magnet dalam pendidikan di
Sulawesi Tenggara dan provinsi sekitarnya. Pada tahun ajaran 2013 santri
yang aktif mencapai angka 1500 orang dan tahun 2014 telah siap menerima
jumlah yang sama karena fasilitas penunjang telah tersedia.
Pendirian Pondok Modern Gontor VII Putra Kendari berawal dari
keinginan Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara menghadirkan Pondok
Pesantren yang besar di Sulawesi Tenggara. Inisiatif pertama adalah
berupaya memindahkan salah satu pesantren yang berada di dalam Kota
Kendari ke Bekas lokasi Bumi Perkemahan di Kecamatan Landono. Akan
tetapi usaha ini tidak berhasil karena pihak yayasan Ummu Shabri menolak
pindah. Melalui seorang alumni Pondok Gontor Ponorogo asal SulawesiTenggara (Muh. Oheo Sinapoy), Pemerintah Daerah mencoba menjalin
hubungan dengan Pondok Gontor Pusat agar dapat merintis Cabang Gontor
di Kendari.
Beberapa keunggulan yang menjadi daya tarik besar masyarakat
Sulawesi Tenggara dan sekitarnya untuk memasukkan anak ke Pondok
Gontor VII, seperti: Pertama, kemampuan dua bahasa (bilingual). Kedua,
kewirausahaan (entrepreneurship), dimana para santri dilatih untuk terampil
dalam bidang kewirausahaan seperti: peternakan, pertukangan, koperasi,
pertanian, menjahit. Ketiga, kemandirian keuangan (Chizanah), yakni
penyelenggaraan pondok yang tidak bergantung pada bantuan dari luar
maupun kucuran dana dari pimpinan pusat. Keempat, jaringan antar
lembaga (nerworking), dimana pondok Gontor VII memiliki jaringan antar
lembaga pendidikan, maupun instansi pemerintah, di dalam maupun luar
negeri.
Pendidikan pesantren juga pun menghadapi kritik tentang kemampuannya
dalam menjawab persoalan aktual di luar domain keagamaan yang menjadi
konsentrasinya. Karena tuntutan bagi santri setelah keluar dari pesantren
lebih besar lagi di masyarakat luas. Pada pesantren-pesantren dengan tradisi
khalaf telah melakukan langkah-langkah adaptasi terhadap perubahan
lingkungan tersebut. Akan tetapi pada pesantren salaf mengalami kesulitan
karena tradisi yang terbangun di dalamnya menyebabkan mereka sulit
beranjak dari posisinya. Selain itu, stigma pesantren sebagai sarang teroris
ataupun tempat potensial untuk melahirkan gerakan radikal turut
memperparah posisi pesantren.
Kepemimpinan pondok Gontor VII dapat dilihat dari dua sudut pandang, yakni proses
dan atribut. Sebagai proses, kepemimpinan difokuskan kepada apa yang
dilakukan oleh para pemimpin, yaitu proses di mana para pemimpin
menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para
pegawai, bawahan, atau yang dipimpinnya, memotivasi mereka untuk
mencapai tujuan tersebut, serta membantu menciptakan suatu budaya
produktif dalam organisasi. Adapun dari sisi atribut, kepemimpinan adalah
kumpulan karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Oleh
karena itu, pemimpin dapat didefinisikan sebagai seorang yang memiliki
kemampuan untuk memengaruhi perilaku orang lain tanpa menggunakan
kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya menerima dirinya
sebagai sosok yang layak memimpin mereka.
Kepemimpinan dalam tradisi pesantren berpusat pada Kiay,
demikian juga dengan kepemimpinan pada Pondok Gontor VII Putra
Kendari. Walau demikian, figur Kiay tidak kemudian menjadi seorang yang
diktator ataupun otoriter. Hal ini disebabkan praktek kepemimpinannya
berada didalam kerangka nilai-nilai dasar dan luhur, yang menjadi pedoman
dalam pengelolaan pondok.
KH. Heru Wahyudi, yang sejak awal hingga saat ini menjadi
pimpinan Pondok Gontor VII Putra Kendari, tentu telah teruji dalam
menggunakan kekuatan dan pengaruhnya selama 12 tahun memimpin.
Dalam pertemuan dengan beliau, terungkap beberapa kunci keberhasilan
selama memimpin pondok, yakni:
a) Menerapkan kepemimpinan panca jiwa.
b) Dukungan dari Ustadz, Pembina Santri, dan Santri. Para guru (ustadz)
dan pembina merupakan alumni-alumni yang didatangkan dari Gontor
Pusat dan telah melalui fase pendidikan dan latihan sehingga siap
menjadi guru. Penting diketahui bahwa dalam tradisi Gontor selalu
ditanamkan kepada para alumni bahwa dimanapun berada hendaklah
tetap menjadi guru atau menjadi pendidik. Demikian pula kewajiban
santri untuk mengabdi pada pondok minimal satu tahun, baik sebagai
guru maupun Pembina santri. Para santri yang masuk pada lembaga ini
melalui proses seleksi yang ketat, sehingga setiap pendaftar akan
bersaing satu sama lain.
c) Menguatkan Karakter pondok Gontor VII yang berbeda dari lembaga
pendidikan Islam lainnya, termasuk keunggulan dibanding pendidikan
umum yang ada di Sulawesi Tenggara. Salah satunya adalah dengan
menanamkan dan menerapkan motto pondok
Pondok Modern Gontor VII Putra Kendari merupakan lembaga
Pendidikan Islam di Sulawesi Tenggara yang menunjukkan keberhasilan
dalam pengelolaan lembaganya. Di samping peningkatan signifikan santri
yang masuk, juga terlihat pada inovasi-inovasi yang dilakukan dan menjadi
keunggulan pondok, di antaranya: penguasaan multi bahasa, kewirausahaan
(entrepreneurship), kemandirian keuangan (chizanahtullah), dan jaringan
kerja yang luas (networking).